Pengaruh Penambahan Tetes Larutan Gula dan Stater pada Pembuatan Kompos Cair

 

Kompos cair adalah exstrak dari pembusukan sampah organik. Dimana dengan mengexstrak sampah organik tersebut kita bisa mengambil seluruh nutriens yang terkandung pada sampah organik tersebut. Selain nutriens kita juga sekaligus menyerap mikroorganisme, bakteri, fungi, dan Protozoa dan Nematodoa. Kompos cair ini kaya akan nutriens organik dan anorganik yang dibutuhkan oleh tanaman dan dapat di aplikasikan dengan cara penyemprotan, hingga juga bisa juga sebagai pengendali hama pada daun (Bio-Control) dan mudah sekali diserap oleh akan tanaman sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman.

Proses pembuatan pupuk cair organik berlangsung secara anaerob/fermentasi tanpa bantuan sinar matahari. Hasil yang didapat setelah fermentasi ternyata terdapat adanya bercak-bercak putih pada permukaan cairan yang berwarna kuning kecoklatan dengan aroma khas yang menyengat. Hal tersebut menandakan bahwa pupuk cair organik telah selesai dibuat. Keunggulan pupuk cair organik diantaranya adalah menyehatkan lingkungan, meningkatkan prokdutifitas tanah, menekan biaya usaha tani dan meningkatkan kualitas produk. Prinsip kerja pupuk cair organik untuk membantu proses pertumbuhan tanaman yang dimulai dari meningkatkan prokdutifitas tanah secara keseluruhan dilihat baik dari fisik, kimia, maupun biologi. Pupuk cair organik pada tanah secara fisik dapat menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan draenasi, mencegah dan meningkatkan daya olah tanah. Secara kimia dapat meningkatkan kestersediaan unsur hara dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Sedangkan pemberian pupuk cair organik pada tanah keunggulannya adalah, menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti, bakteri, serta mikroorganisme menggantung lainnya, sehinga perkembangan nya menjadi lebih cepat. Kesuburan secara alami bergantung pada unsur-unsur kimia.  Hadisuwito S. Membuat pupuk kompos cair. Cet. 1. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta 2007. Pembuatan pupuk cair secara aerobik akan bekerja lebih baik untuk menghasilkan kompos yang berkualitas karena proses penguraiannya merata dan

bau busuknya lebih sedikit. Jadi, semakin sering pengadukan, makin cepat proses penguraian dan makin baik kualitas kompos..

Teknik pembuatan pupuk cair organik, diawali dengan pembuatan molase. Pembuatan molase tersebut bertujuan sebagai sumber energi bagi perkembangan bakteri EM. Molase dihasilkan dengan melarutkan gula putih / gula merah dengan air panas.  Molase adalah sumber karbohidrat untuk merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang menguntungkan. Molase yang baik merupakan sumber energi bagi berbagai bentuk kehidupan mikroba. Seperti yang kita katakan sebelumnya, sirup gula adalah sumber karbon yang memberi makan mikroba bermanfaat yang menciptakan kesuburan tanah alami yang lebih besar. Selain gula, molase mengandung sejumlah besar garam abu, sulfur, dan berbagai gizi mikro.  Salah satu manfaat lain dari molase adalah mempunyai kemampuan sebagai  chelating agent. Itu cara ilmiah mengatakan bahwa molase adalah merupakan zat-zat yang dapat mengubah beberapa nutrisi kimia menjadi bentuk yang mudah tersedia untuk makhluk dan tanaman.

Selain itu untuk mempercepat proses pengomposan itu dapat ditambahkan larutan EM4 (Effective Microorganism) yang dijual di toko pertanian atau toko bahan kimia. EM4 merupakan suatu cairan yang dapat ditambahkan dalam kompos padat, kompos cair atau langsung dimasukkan. EM4 merupakan suatu kultur mikroorganisme cair yang digabung menjadi satu, mengandung bakteri fotosintetik, ragi, Actinomycetes dan 90 % bakteri genus Lactobacillus dan genus Azotobacter yang dapat memfermentasikan bahan organik (kotoran hewan, sampah, rumput dan sisa-sisa tumbuhan) menjadi senyawa-senyawa organik, sehingga dapat diserap langsung oleh tanaman untuk dapat tumbuh dan berproduksi dan  mengandung organisme mikro yang dibutuhkan oleh tanah.

EM berguna untuk:

v  Mempercepat proses pengomposan.

v  Memperbaiki kualitas pupuk alami.

v  Menjadikan unsur hara lebih tersedia bagi tanaman.

v  Dapat memfermentasikan bahan organik yang terdapat dalam tanah

v  Dapat menekan pertumbuhan pathogen

v  Dapat mempercepat dekomposisi limbah dan sampah organik

v  Meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik bagi tanaman

v  Meningkatkan aktivitas mikroorganisme indegenus yang menguntungkan misalnya saja Rhizobium, bakteri pelarut fosfat

v  Menfiksasi nitrogen serta mengurangi kebutuhan pupuk serta pestisida kimia

v  Mereaksikan logam-logam berat menjadi senyawa-senyawa untuk menghambat penyerapan logam berat tersebut oleh akar tanaman.

v  Memperbaiki semua aspek kualitas tanah.

 

Larutan EM4 juga dapat menjadi pupuk organik yang bermanfaat meningkatkan kualitas tanah karena EM4 merupakan mikroorganisme yang dapat meningkatkan mikroba tanah. Mikroorganisme ini memberi pengaruh yang baik terhadap kualitas pupuk cair organik. Sedangkan ketersediaan unsur hara dalam pupuk cair organik sangat dipengaruhi oleh lamanya waktu yang diperlukan bakteri untuk mendegradasi sampah. Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Moh. Zainul. 2009. Membuat Pupuk Cair. http://tiny.cc/kios. (1 Januari 2010)

Nita, Wayan.2007. Menakar Komposisi Kandungan EM4. http://forum.detik.com/ (1 Januari 2010)

Radjam, Syamsul Asinar.2009. Kerja Keras Pulihkan Lahan Kurus | Tips Membuat Pupuk Organik Cair. http://dusunlaman.net/2009/10/kerja-keras-pulihkan-lahan-kurus-tips-membuat-pupuk-organik-cair/ (1 Januari 2010)

Sukamto Hadisuwito.2007. Tata Cara Pembuatan Kompos Cair. http://www.mail-archive.com/bursa-buku@yahoogroups.com/info.html. (1 Januari 2010)

TTom, Major. 2007. Yagitudeh: Memilih Bioaktivator. http://blogsampah.blogsome.com/2007/ 12/10/ yagitudeh-memilih-bioaktivator/ (1 Januari 2010)